Membangun SMS Gateway dengan Gammu dan MySql

24-January-2008 at 8:20 am | In Technology | Leave a Comment

Saya sangat bersyukur sekali, karena sudah 1 tahun saya mencoba membangun SMS Gateway menggunakan gnokii, kannel,etc, tapi saya selalu menemukan masalah, dan sekarang alhamdullilah telah berhasil membangun SMS Gateway menggunakan Gammu yang saya rasa

cukup stabil. Handphone yang telah berhasil saya coba adalah Nokia 3310 dan Siemens C35i. Distro linux yang saya gunakan untukmembangun SMS Gateway ini adalah Trustix 3.0. Sebelum installasi kita lakukan silahkan anda baca-baca info tentang Gammu di

http://www.mwiacek.com/gsm/soft/gammu.html

Gimana!! udah selesai bacanya?? Oke..lansung saja dan tidak banyak basa-basi, mari kita mulai saja mengumpulkan kebutuhan untuk

Continue reading Membangun SMS Gateway dengan Gammu dan MySql…

Ajaran seorang CEO

24-January-2008 at 8:19 am | In Motivasi | Leave a Comment
Ada sebuah ajaran yang perlu diperhatikan bagi seorang pimpinan, dari mantan Direktur saya dan sekarang beliau menjadi seorang CEO Bank Papan atas di Indonesia. Ajarannya sederhana, dan bisa diterapkan pada kondisi kita sehari-hari.

Ada 3 (tiga) hal yang harus kita pertimbangan dalam setiap langkah:

1.Hati-hati dalam membuat kebijakan

Sebuah kebijakan harus dibuat dengan hati-hati dan telah mempertimbangkan dari setiap segi, karena kebijakan yang salah akan sulit perbaikannya. Apalagi kalau kita bekerja di perbankan, yang selalu berhadapan dengan risiko dan uang, maka kebijakan yang keliru akan berakibat pada kerugian secara financial.

Sebagaimana kita ketahui, di dalam membuat kebijakan, pada umumnya kita melibatkan pakar-pakar, termasuk dari Divisi legal, namun dalam implementasinya ada saja kebijakan yang pada awalnya baik ternyata tak sesuai dilapangan. Oleh karena itu, dalam setiap kebijakan harus ada escape clause, yang akan memudahkan dilakukannya revisi. Namun kebijakan yang mudah dilakukan revisi akan membingungkan pelaksana dilapangan, dan hal ini bisa membuat terjadinya penyimpangan tak disengaja dilapangan karena kebijakan yang berubah-ubah akan sulit pelaksanaannya dilapangan.

2. Transparan dan rendah hati, sehingga menghindari fitnah

Transparan, istilah ini sangat penting terutama apabila jika kita bekerja dilingkungan yang berisiko tinggi . Bank termasuk lembaga atau perusahaan yang berisiko tinggi, oleh karena itu diatur secara ketat oleh Bank Indonesia, serta harus mengikuti peraturan internasional (Basel 2). Secara garis besar kita mengenal 3 risiko di Bank, yaitu; Risiko Kredit (risiko yang muncul apabila terjadinya keterlambatan pembayaran dari debitur), risiko pasar (terjadi karena adanya perubahan tingkat suku bunga), serta risiko operasional (yang diakibatkan oleh kesalahan sistem, teknologi dan manusia). Pada setiap posisi di perbankan, setiap harinya dihadapkan pada sebagian atau ketiga risiko tersebut. Oleh karena itu, sikap, tingkah laku, dan kebijakan yang dibuat harus dilakukan secara transparan, agar setiap orang memahami bahwa kebijakan tersebut dibuat untuk kepentingan organisasi/perusahaan, agar strategi bisnis perusahaan dapat dicapai sesuai target yang ditetapkan oleh pemegang saham. Di samping itu, sebagai pimpinan harus bersikap low profile, rendah hati, agar setiap orang yang berhubungan, baik secara profesional maupun secara personal merasa nyaman. Sebagai seorang pimpinan, setiap sikap dan perilaku sehari-hari akan membawa image perusahaan, oleh karena itu sikap dan perilaku ini perlu dijaga agar sesuai dengan kebijakan perusahaan. Seorang pimpinan yang kurang terbuka, atau kurang bisa membawa diri, memudahkan timbulnya fitnah, karena setiap kebijakan yang dilaksanakan akan menimbulkan polemik. Dengan terbuka, setiap orang yang berkepentingan dapat dengan mudah memahami dan menilai alasan dikeluarkannya kebijakan tersebut.

3. Baca dan bacalah…..agar selalu membaca

Membaca setiap peraturan, akan membuat langkah yang dilakukan telah sesuai dengan sistim dan prosedur yang digariskan. Namun berbuat sesuai prosedur saja tidak cukup, sebagai pimpinan perlu banyak membaca, dan memahami berbagai persoalan yang terjadi, karena hal ini akan memudahkan dalam pergaulan. Dalam setiap langkah, pemahaman akan pengetahuan, kondisi ekonomi dan profil bisnis perusahaan lain, akan memudahkan untuk mengetahui posisi perusahaan kita, sehingga kita tahu secara pasti apa yang terjadi di perusahaan.

Source :  http://edratna.wordpress.com/2006/11/20/ajaran-seorang-ceo/

Tips untuk menyusun resolusi tahun 2008

24-January-2008 at 8:19 am | In Motivasi | Leave a Comment

Tahun 2008 sebentar lagi datang, banyak prediksi mengenai tahun 2008 ini. Mulai dari ramalan positif seperti suku bunga KPR yang semakin turun, lapangan pekerjaan. Hingga ramalan negatif seperti semakin banyak bencana alam dan situasi politik yang makin tidak sehat. Apapun, saya lebih meyakini ramalan-ramalan positif tentang 2008. Dan terlepas dari situasi apapun yang bakal terjadi saya berusaha lebih semangat untuk menyiapkan diri untuk menghadapi tahun yang lebih baik tahun depan.

Salah satu hal yang penting kita lakukan setiap tahun baru adalah membuat resolusi. Pembuatan resolusi atau perencanaan ini sangatlah penting. Apalagi untuk rekan yang sudah bekerja, bagi rekan pekerja hampir semua hal tidak ada ukurannya -tidak ada KPI kehidupan yang pasti. Seperti target menikah, target berolahraga, ataupun target beribadah yang lebih baik lagi.

Sedikit tips untuk persiapan resolusi tahun depan adalah:
1. Mulailah dengan evaluasi tahunan
Untuk membuat resolusi yang baik maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah: Evaluasi tahunan. Evaluasi ini akan memonitor perkembangan kita selama setahun terakhir. Apa yang sudah kita capai, apa yang ingin kita capai, apa yang kita suka dari diri kita, apa yang kita tidak suka dan seterusnya. Ingat kata Deming ‘We cant improve what we can measure’

2. Fokuslah pada proses bukan hasil.
Contoh resolusi tahunan yang paling banyak diminati adalah: Menikah, Lulus Kuliah, Punya jabatan/pekerjaan baru, punya rumah sendiri. Resolusi seperti ini tidaklah salah. Tapi bisa tidak realistis dan sulit diterapkan. Saran saya cobalah mengganti kalimat resolusi ini misalnya:
1. Menikah diganti: Memutuskan memilih lelaki yang jelas komitmen dan tanggungjawabnya. Resolusi seperti ini jauh lebih mudah untuk diwujudkan dibanding resolusi generik yang seringkali membuat kita tidak fokus.
2. Lulus kuliah diganti: Menyelesaikan skripsi bab III tepat waktu
3. Pekerjaan baru diganti: Punya teman atau network baru yang lebih banyak
Dan seterusnya

3. Siapkan benchmark
Benchmark disatu sisi menguntungkan karena bisa memotivasi kita mencapai tujuan. Memantau perkembangan karir teman-temen seangkatan mungkin bisa jadi guidance penting apakah keputusan kita untuk mengambil sekolah atau mengambil sertifikasi. Benchmark ini disisi lain bisa jadi merugikan karena kita mudah tertekan dengan pencapaian orang lain yang diluar kapasitas kita.

4. Manfaatkan momen
Resolusi tahunan juga akan lebih efektif bila disertai dengan momen. Misalnya, di tahun 2008 besok kita membagi dalam beberapa siklus, bisa per empat bulan, bisa berdasarkan hari penting (ulang tahun, pernikahan, hari pertama dikantor) dan selanjutnya.

Momen religius juga merupakan momen yang menarik untuk dijadikan titik balik motivasi. Misalnya, target Lebaran 2008 sudah bisa membantu pembangunan mushola. Atau target idul kurban 2008 bisa memberi lebih banyak dari tahun ini.

5. Jadilah diri sendiri
Karena resolusi ini sifatnya personal, kita sendiri yang menentukan, kita sendiri yang mengukur maka berusahalah menjadi diri sendiri dalam menentukan resolusi tahunan ini. Dengar suara hati kita, ingin jadi apa kita kelak tahun depan. Ingat, tidak ada hal yang instan didunia ini.

Source : http://priandoyo.wordpress.com/2007/12/11/tips-untuk-menyusun-resolusi-tahun-2008/

7 langkah menjadi direktur pada umur kurang dari 40 tahun

24-January-2008 at 8:17 am | In Motivasi | Leave a Comment

“…Mac Arthur dalam sebuah quotenya pernah berkata bahwa untuk menjadi seorang Jendral Besar, seseorang harus lahir sekitar tahun 1880-an, menjadi perwira menengah dalam perang dunia I dan kemudian perwira tinggi di perang dunia kedua. Jendral besar perang pasific Amerika ini pun mengakui sendiri bahwa ada banyak perwira yang jauh lebih baik dari pada dirinya namun tewas ditangan peluru musuh, jauh sebelum dia menjadi besar…”

Persis sehari setelah saya pulang dari Timika tetangga saya bercerita tentang Dian Siswarini. Ibu dengan tiga anak yang baru berusia 39 tahun ini terpilih dalam RUPS XL di Ritz Carlton sebagai Direktur Network membawahi ratusan Telco engineer, disebuah dunia yang identik dengan laki-laki. Saya tertarik untuk mengupas strategi dan sepak terjang ibu yang sempat membuat heboh karena prestasi kenaikannya dikaitkan dengan Hari Kartini 21 April yang lalu.

Topik ini saya buat umum namun saya batasi dengan definisi sebagai berikut:
Direktur adalah pimpinan, C level (Chief Level) sebuah perusahaan terbuka (Tbk) atau Transnational atau Multinational atau dengan international rate atau kapitalisasi lebih dari $ 1M. Jadi asumsing C level yang saya bahas disini sudah punya rate > 100 juta perbulan. Gosipnya sih Bu Dian kena Rp 200 juta.

Karir path yang dibahas disini adalah from employee to executive. Jadi disini tidak akan dibahas Michael Sampoerna yang umur 26 tahun sudah jadi Raja Kretek, atau model Agus Martowardojo yang kental dengan political drivennya pemerintah, atau model kutu loncat cross industri macem Arwin Rasyid atau Widya Purnama. Path disini adalah dari buruh rise to the top.

Sebagai bahan diskusi, mari kita lihat screen shoot perjalan karir ibu ini:
Dian Siswarini
1968 (00th): 5 Mei 1968
1991 (23th): Lulus Elektro ITB
1991 (23th): PT Citra Sari Makmur (CSM), Engineer – Supervisor
1994 (26th): PT Satelindo, Supervisor
1996 (28th): PT Excelcom (XL), Senior Engineer
1997 (29th): XL, Manager Network Design & Engineering
2005 (37th): XL, Vice President Network
2007 (39th): Network Director XL
Sumber: Bisnis Indonesia

Kalau kita lihat pathnya sebenarnya apa yang Dian Siswarini jalani adalah industrial standard. Jargon ini yang akan selalu dipakai orang HR yang akan bilang bahwa companynya adalah equal employeer, valuenya bagus dll ala HR dept. Padahal kalau kita lihat apa yang sedang terjadi didalamnya mungkin sangat jauh lebih kompleks. Kalau kita analisa, maka langkah yang harus kita tempuh adalah:

1. Lahir pada saat yang tepat.
Seperti Mac Arthur bilang, Dian juga lahir pada tahun 60an akhir, lulus ketika embrio Telco/Seluler mulai menggeliat. Dan dewasa ketika XL baru berumur satu tahun. See, jadi kalau mungkin boleh meramalkan Senior Engineer yang masuk Telco baru saat ini punya kesempatan to the top level dengan sangat mudah.

2. Punya mentor yang tepat.
karena tidak mungkin Arthur tanpa Merlin, begitu juga tidak mungkin Dian dapat menjadi seperti sekarang tanpa mentor yang tepat: Muhammad (Danny) Buldansyah, orang ini juga lulusan ITB tahun 1988, 3 tahun sebelum Dian lulus, yang tahun 2005 menjadi Direktur Network XL posisi yang 2 tahun kemudian ditempati Dian. Danny sekarang menjadi Direktur Network di Esia.

Danny dalam perjalanan pun tidak kalah dramatis dibandingkan Dian, sebagai ‘orangnya’ Lucent (AT&T). Danny membawa sepasukan orang Lucent untuk bekerja di XL. Kenaikan posisi Danny tentunya diikuti dengan kenaikan kliknya.

3. Punya musuh yang tepat.
“..There is no bad publication, its publication..” Seorang pemimpin pastinya tidak lepas dari gosip. Musuh bisa berarti gosip, bisa berarti kesempatan ‘dari keburukan pemimpin sebelumnya’. Musuh ini bisa dibuat, bisa juga datang dengan sendirinya, bisa jadi rekayasa, bisa jadi karena siapapun butuh pahlawan.

4. Punya path yang ajaib
Ketika lulus, Dian bekerja di CSM, sebuah perusahaan jasa satelit. CSM sendiri merupakan satellite network provider pertama dan terbesar di indonesia. Ditempat ini Dian bisa meraih posisi supervisor pertamanya, kemudian masuk ke Satelindo dan akhirnya Network Planning di XL. Sudah rahasia umum bahwa kasta tertinggi adalah planning, disusul operation dan kemudian support.

5. Bekerja diperusahaan yang sedang ‘tumbuh’ dan ‘kisruh’
XL pertama kali berdiri di tanah Mega Kuningan -yang konon disokong Tommy Winata-, dibangun oleh Group Bentoel (Peter Sondakh, Group Rajawali, Sheraton, Taxi Express), kisruh sana sini pergantian kepemilikan ke Telkom Malaysia. Dan segudang pergerakan lain di level management.

Perusahaan yang dinamis (turn over tinggi), high risk dan sebangsanya memungkinkan peralihan kekuasaan dengan sangat cepat. Bedakan dengan Baihaqi Hakim-nya Caltex yang dengan tenang, dalam industri yang sudah stabil. Telco pada waktu itu memberikan kesempatan yang sangat luas. Entah apa jadinya kalau tidak ada perubahan kepemilikan pada XL.

6. Manager before 30
Sebagaimana Mac Arthur bilang harus sudah menjadi perwira muda pada saat perang dunia pertama. Seorang C Level juga harus menjadi manager pada usia kurang dari 30 tahun. Seperti HSBC yang tidak akan pernah mengangkat staffnya menjadi manager bila ia gagal pada usia 30. Seorang calon C Level harus paham betul mengenai strategi ini.

Beberapa perusahaan mature saat ini memiliki posisi manager yang sangat mustahil untuk digeser. Bila Dian terjebak dalam posisi seperti itu tentunya dia tidak akan memiliki karir gemilang seperti ini.

Ada yang ingin menambahkan? dalam posisi dipuncak seperti sekarang sangat mungkin Dian pindah ke Telco/Operator lain yang lebih mature, seperti Telkom misalnya. Padahal hampir tidak mustahil Dian bisa sampai dipuncak bila mengawali tahun freshgradnya di Telkom

Any other insight?
Next topic would be: Irfan Setiaputra, Country Managing Cisco Indonesia. Informatika ITB 1st batch, grads 1989

Anyway, happy b’day bu Dian

Revisi: 16 May 2007, data tentang CSM, terimakasih untuk orang CSM atas kritik dan masukannya.

Source : http://priandoyo.wordpress.com/2007/05/03/7-langkah-menjadi-direktur-pada-umur-kurang-dari-40/

Next Page »

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.